Banyak Permintaan Kerajinan, Ibu di Banyuwangi Belajar Merajut Bambu

200.jpg

Banyak Permintaan Kerajinan, Ibu di Banyuwangi Belajar Merajut Bambu

Hal yang sama diungkapkan Ani Karimah. Menurutnya, meski saat sedang menenun, dia akan tinggal sendiri di rumah
membesarkan anak Saat ini, Amanto memproduksi 50 jenis kerajinan bambu dengan menggunakan salah satu elemen truntum. “Ini bisa meningkatkan pendapatan
Karena satu truntum bisa dihargai antara Rp 10.000 sampai Rp 12.000 sesuai dengan kesepakatan dengan pengrajin, jadi jangan
Harus bekerja di luar, “kata Ani. Produk dari Amanto sendiri telah menyebar ke hampir seluruh wilayah Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan, dan juga
di luar negeri. Mereka membuat truntum frame, yang merupakan bahan kerajinan bambu, seperti tempat kue, kap mesin, songkok, lampu hias,
paket, bersama dengan kerajinan bambu. Truntum ditenun dari bambu sedikit dan casing, lalu disatukan untuk menghasilkan selembar kertas
berukuran 50 x 60 sentimeter. Ini juga akan mengadakan pengajaran di desa-desa yang berpotensi memberi sumber truntum
industri bambu. “Kaku masih belum dipakai, agak sulit karena polanya baru dan bambu ini tetap perlu
robek agar lebih rapi, “kata Jamiatun, ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan di Kompas.com. Sementara itu, Hary Cahyo Purnomo,
Kepala Industri Perdagangan dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi, menyatakan bahwa pelatihan tersebut dapat bermanfaat bagi Pelatih Bambu dan
juga ibu rumah tangga yang mengikuti pelatihan. Sementara itu, Amanto, siapa saja yang memiliki perusahaan kerajinan bambu UD Karya Nyata, siapa
Mendidik para ibu, menjelaskan bahwa ia membutuhkan banyak truntum karena permintaan produk bambu dari Banyuwangi sangat besar.
Iklan Untuk itu, dengan mendidik para ibu di Desa Kelir, bisa membeli produk. Kerajinan yang paling dicari,
Menurutnya, tengkorak, tapi untuk Arab Saudi pesanannya adalah kue Anda. Para ibu adalah pertama kalinya belajar bagaimana caranya
menenun dalam praktek yang difasilitasi oleh Industri Pertambangan dan Perdagangan (Disperindagtam) Banyuwangi yang digelar selama empat belas hari. Mereka tahu
dari teknik dasar tenun sampai kenari. Ibu di Dukuh Pekarangan, Kelir, Kecamatan Kalipuro, juga belajar
untuk menenun bambu di halaman rumah residen tunggal, Rabu (9/11/2016).Baca juga: plakat wisuda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s